05 April 2011
23 Juni 2010
let's think..
Kalau kita melihat dan mendengar berita di televisi akhir2 ini mengenai kekerasan, bahkan pembunuhan terhadap anak, membangkitkan emosi kita untuk ikut menghakimi bahkan mengadili. Ya, sadis dan kejam!!anak kecil sebagai individu yang kecil dan lemah selalu menjadi korban nafsu orang dewasa. Dimana letak kesalahan masyarakat kita?apakah didikan dari kecil yang salah, menyebabkan seseorang tumbuh menjadi individu yang berjiwa kejam?atau lingkungan sekitar dimana kita tumbuh menyebabkan kita juga bertumbuh menjadi sama seperti lingkungan yang buruk itu?berarti orangtua dan lingkungan sekitar berperan sangat besar dalam pembentukan individu-individu ini.
Saya tidak melihat dari sisi anak kecil yang menjadi korban,tapi saya ingin menyoroti dari sisi pelaku kekerasan yang kejam ini. Mengapa mereka bisa menjadi individu yang sedemikian kejam,yang tidak bisa berpikir panjang menentukan mana yang baik dan mana yang tidak baik, mana yang benar dan mana yang salah? Yang hanya bisa memuaskan nafsu sesaat dan tidak bisa mengontrol emosi, sehingga harus menyelesaikan masalah dengan MEMUKUL, MEMBAKAR, MENYAKITI, bahkan MEMBUNUH hanya karena ketakutan dan kepanikannya.
Bagaimana sebenarnya didikan orangtua mereka dulu?bagaimana lingkungan tempat mereka dibesarkan dulu?apakah mungkin orangtua mengajarkan anak2 mereka untuk menyakiti?apakah lingkungan mereka dulu merupakan kumpulan orang2 preman yang sadis?yang juga suka menyakiti oranglain?
Menurut saya, tidak ada orangtua yang mengajarkan anaknya membunuh, yang ada hanyalah orangtua yang tidak bisa mengontrol emosi mereka sehingga dalam memecahkan atau menghadapi masalah dalam rumah tangga mereka selalu mengandalkan kekerasan dan keputusasaan, sehingga yang ada dalam rumah tangga itu hanyalah KERIBUTAN, PERTENGKARAN, KESEDIHAN, KEPUTUSASAAN, JALAN PINTAS. Bukannya KETENANGAN, MUSYAWARAH, KEDAMAIAN, SUKACITA, UCAPAN SYUKUR, USAHA, KERJA KERAS. Itulah yang menyebabkan anak2 tumbuh menjadi individu yang buruk dan susah mengendalikan diri mereka, sehingga saat besar dapat menjadi individu yang buruk.
Jadi apa yang dapat kita pelajari dari kasus ini?tidak perlu kita ikut2 an menghakimi atau mengadili, karena itu sudah ada bagiannya sendiri. Sekarang yang perlu kita pelajari adalah bagaimana kita menciptakan anak2 kita menjadi individu yang dapat bersosialisasi dengan baik, dapat membawa diri mereka dan mengenal siapa diri mereka dengan baik, dapat mengendalikan emosi mereka dengan baik, dapat menjadi individu yang ceria, bersukacita, selalu mengucap syukur, dan yang lebih penting adalah bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah, bukan hanya sekedar tau mana yang baik dan mana yang tidak baik.
Anak adalah anugrah Tuhan yang indah dan besar buat orangtua. Seperti jika kita mempunyai berlian atau permata yang berharga ratusan juta rupiah, pasti kita tidak ingin permata itu rusak, kotor atau bahkan tergores sedikit saja bukan?maka sudah seharusnya seperti itulah kita menjaga anak2 kita. Bagaimana caranya?bukan hanya dengan pendidikan agama, tetapi juga dengan menjadi contoh sehari2. Menjadi teladan bagi anak2 kita, menjadi cermin buat mereka, menjadi pola.
Nah, kalo sudah begini, banyak hal yang harus kita pikirkan sebelum menjadi orangtua kan?bukan hanya kesiapan financial atau mental saja, tetapi sudahkah kita bisa menjadi contoh nantinya bagi mereka?tentu saja diawali dengan dapat menjadi contoh bagi orang lain sekitar kita. Jadi sebenarnya masalahnya tidak sederhana, tetapi sangat KOMPLEKS. Tidak perlu ribut, tidak perlu ikut mengadili, tidak perlu menjudge orang berlebihan, tetapi mari kita semua bergandengan tangan sama2 membentuk anak menjadi individu yang benar saat mereka menjadi dewasa nanti. Mulailah dari keluarga kita masing2. Kita harus bisa memutus rantai kehidupan yang sudah salah. Pelaku kekerasan berawal dari korban kekerasan, dan korban kekerasan terjadi karena pelaku mendapat kekerasan pula, begitu seterusnya. Mari kita putus melalui anak2 kita yang sedang bertumbuh, jadikan mereka individu yang baik yang nantinya mereka juga dapat menghasilkan individu yang baik pula, begitu seterusnya, seperti dapat dianalogikan dengan film “PAY IT FORWARD”.
Tidak perlu juga kita mengkambinghitamkan pemerintah yang tidak bisa memecahkan masalah ekonomi atau ini itu, sehingga menyebabkan orang mengambil jalan pintas atau putus asa. Itu hanyalah alasan yang dicari-cari. Karena hidup kita tergantung dari diri kita sendiri, bukan dari oranglain. Tuhan memberi kita akal budi buat berpikir dan mengasihi, dan tangan buat bekerja dan membelai, bukan akal budi buat melamun dan tangan buat meminta dan bertopang dagu,atau tangan buat memukul dan menyakiti.
14 Maret 2010
TINJAUAN PUSTAKA PENGGUNAAN PROBIOTIK SEBAGAI TERAPI DIARE AKUT PADA ANAK
PENDAHULUAN
Diare merupakan penyebab kematian utama pada anak di dunia, terhitung 5-10 juta kematian/tahun.1 Sampai saat ini penyakit diare masih menjadi masalah dunia terutama di Negara berkembang. Besarnya masalah tersebut terlihat dari tingginya angka kesakitan dan kematian akibat diare.2 WHO memperkirakan 4 milyar kasus terjadi di dunia pada tahun 2000 dan 2,2 juta diantaranya meninggal, sebagian besar anak-anak dibawah umur 5 tahun.2,3
Meskipun diare membunuh sekitar 4 juta orang/tahun di Negara berkembang, ternyata diare juga masih merupakan masalah utama di Negara maju.3 Di Amerika, setiap anak mengalami 7-15 episode diare dengan rata-rata usia 5 tahun, 9% anak yang dirawat di Rumah Sakit dengan diare berusia kurang dari 5 tahun, dan 300-500 anak meninggal setiap tahun.3 Di Negara berkembang rata-rata tiap anak dibawah usia 5 tahun mengalami episode diare 3 kali pertahun.4
Di Indonesia, diare masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat utama. Hal ini disebabkan masih tingginya angka kesakitan dan menimbulkan banyak kematian terutama pada bayi dan balita, serta sering menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB).2,5
Data dari profil kesehatan Indonesia tahun 2002 menunjukkan bahwa angka kesakitan diare berdasarkan propinsi terjadi penurunan dari tahun 1999-2001. Pada tahun 1999 angka kesakitan diare sebesar 25,63 per 1000 penduduk menurun menjadi 22,69 per 1000 penduduk pada tahun 2000 dan 12,00 per 1000 penduduk pada tahun 2001.6 Sedangkan berdasarkan profil kesehatan Indonesia 2003, penyakit diare menempati urutan kelima dari 10 penyakit utama pada pasien rawat jalan di Rumah Sakit dan menempati urutan pertama pada pasien rawat inap di Rumah Sakit. Berdasarkan data tahun 2003 terlihat frekuensi kejadian luar biasa (KLB) penyakit diare sebanyak 92 kasus dengan 3865 orang penderita, 113 orang meninggal, dan Case Fatality Rate(CFR) 2,92%.7 Kasus diare akut yang ditangani di praktek sehari-hari berkisar 20% dari total kunjungan untuk usia di bawah 2 tahun dan 10% untuk usia di bawah 3 tahun.4
Penyakit diare sering menyerang bayi dan balita, bila tidak diatasi lebih lanjut akan menyebabkan dehidrasi yang mengakibatkan kematian.5 Data terakhir dari Departemen Kesehatan menunjukkan bahwa diare menjadi penyakit pembunuh kedua bayi di bawah lima tahun (balita) di Indonesia setelah radang paru atau pneumonia.2
Penelitian multisenter selama 1 tahun di beberapa Negara Eropa menunjukkan bahwa 65,6% dari 287 anak terinfeksi oleh patogen, dan infeksi terbanyak adalah karena Rotavirus (35,1%).1,4 Rotavirus sebagai patogen penyebab tersering pada usia 6-24 bulan. Infeksi oleh bakteri lebih sering terjadi pada beberapa bulan awal kehidupan (bayi muda) dan pada anak usia sekolah.4
Terapi utama untuk diare akut adalah rehidrasi oral.4,5,8,9 Pada banyak kasus, dehidrasi akibat diare dapat ditangani dengan baik melalui keseimbangan cairan rehidrasi oral selama 4-6 jam.8 Dua puluh empat tahun yang lalu, terapi rehidrasi oral pertama kali dibuktikan efektif untuk mengatasi pasien dengan dehidrasi berat akibat kolera. Perkembangan dari terapi sederhana ini sudah dipakai dan diterima selama hampir 20 abad. Terapi oral sekarang menjadi usulan utama WHO dalam usaha menurunkan angka kematian dan kecacatan dan ditetapkan dalam Diarrheal Disease Control Program dan dipakai oleh 100 negara di dunia.3
Menurut Ketua Unit Kelompok Kerja Gastro Hepatologi Ikatan Dokter Anak Indonesia Pusat dr.M.Juffrie,PhD,Sp.A(K), akhir-akhir ini penggunaan probiotik mulai diperkenalkan untuk mengatasi masalah diare di Indonesia. Apalagi di Indonesia diare merupakan penyebab kematian terbesar pada bayi dan balita yaitu masing-masing sekitar 42% dan 25%.10 Adapun penyebab diare terbesar berdasarkan survey secara umum adalah Rotavirus (sekitar 60%), berikutnya adalah bakteri patogen. Sedang pada anak balita, hampir 84% penyebab diare adalah rotavirus, yang lainnya adalah oleh bakteri patogen yang didominasi oleh Shigella, Salmonella, Aeromonas, Campylobacter, dan lain-lain.10
Probiotik secara luas telah diketahui memberikan keuntungan pada berbagai kondisi penyakit. Dalam beberapa studi terbatas menunjukkan, penggunaan probiotik sebagai profilaksis dapat memberikan kontribusi menurunkan angka kejadian dan lamanya penyakit pada subyek orang sehat. Probiotik juga dapat menurunkan angka kejadian diare pada anak.11 Terapi probiotik, merupakan "complementary" atau "integrative" medicine dan mulai menjadi terapi utama pada penyakit-penyakit pediatrik.12
The American Academy of Pediatric Subcomitte on Acute Gastroenteritis mendorong agar probiotik (contohnya Lactobacillus GG) dimasukkan sebagai parameter praktisi yang direkomendasikan. Meskipun penggunaan probiotik sebagai terapi terhadap diare akibat bakteri dan pada kondisi penyakit sedang sampai berat belum banyak diteliti, tetapi penggunaan probiotik pada diare akibat virus dan pada kondisi penyakit ringan menunjukkan hasil yang bagus.12,13
Probiotik, merupakan mikroorganisme yang dapat memberikan efek positif bagi kesehatan apabila dikonsumsi, dan sudah banyak dilakukan penelitian mengenai hal ini, dan sudah digunakan pada manusia.11,12,14 Probiotik yang digunakan pada susu formula berguna pada anak-anak yang ditempatkan pada Tempat Penitipan Anak(TPA) atau pada anak-anak yang tidak mendapat ASI, dimana anak-anak ini termasuk dalam golongan yang rentan terhadap infeksi.12,13 ASI menyebabkan usus kaya akan mikroflora probiotik dengan sedikit bakteri patogen, dibandingkan dengan susu formula. Hal ini merupakan salah satu mekanisme yang menurunkan angka kejadian infeksi diare pada anak yang mendapat ASI. Sudah dibuktikan bahwa ASI merupakan sumber bakteri asam laktat (lactic acid bacteria) bagi usus bayi.13
Secara umum, penelitian-penelitian telah menunjukkan adanya keuntungan pada konsumsi probiotik dan keuntungan ini terjadi karena adanya kolonisasi di epitel.11 Banyak yang telah melaporkan keuntungan dalam mengatasi gejala penyakit, seperti mengurangi durasi dari diare akibat rotavirus, mengurangi gejala irritable bowel syndrome dan mengatasi penyakit atopic. Karena banyaknya keuntungan yang bisa diperoleh dari penggunaan probiotik ini, maka saat ini banyak penelitian dilakukan dalam rangka penggunaan probiotik untuk pencegahan penyakit.11 Menurut sebuah laporan dalam jurnal The Pediatric Infectious Disease edisi Juni 2008, probiotik Eschericia Coli Nissle 1917 efektif dalam penanganan diare dengan durasi lebih dari 4 hari pada bayi dan anak-anak. Dr.Henker dan koleganya mencatat bahwa E.coli strain Nissle 1917 (EcN) non patogenik telah dilisensi di eropa selama 90 tahun dalam penanganan penyakit-penyakit usus besar.15
Namun sampai saat ini probiotik yang dipasarkan di Indonesia adalah berasal dari import dengan memanfaatkan strain-strain bakteri dari peneliti-peneliti di luar negeri, baik Jepang maupun Eropa. Tantangan yang dihadapi oleh peneliti Indonesia adalah mengangkat isolate probiotik local untuk dapat dikomersialkan.10
Penelitian tentang probiotik sebetulnya telah lama dikembangkan di Fakultas Teknologi Pertanian dan Pusat Studi Pangan dan Gizi, Universitas Gadjah Mada (PSPG) lebih dari 10 tahun yang lalu. Diawali dengan isolasi bakteri asam laktat (yang juga dikenal sebagai friendly bacteria) dari berbagai makanan fermentasi.10 Penelitian tersebut dilakukan oleh Prof.Dr.Endang S.Rahayu beserta timnya yang waktu itu berkolaborasi dengan peneliti Luar Negeri dibidang yang sama dari Jepang dan Amerika. Ratusan koleksi bakteri asam laktat saat ini disimpan di koleksi kultur yang dimiliki oleh PSPG yaitu FNCC (Food and Nutrition Culture Collection). Isolat-isolat bakteri asam laktat selanjutnya diseleksi dan dipilih yang memiliki potensi sebagai agensia probiotik.10
Karena semakin berkembangnya penelitian dan penggunaan probiotik sebagai terapi dan profilaksis pada diare, terutama diare akut, maka penulis tertarik untuk melakukan tinjauan pustaka agar dapat membangkitkan kembali rasa ingin tahu kita dan menggali informasi lebih banyak lagi, agar penggunaan probiotik dalam praktek sehari-hari bisa lebih maksimal, mengingat tingginya angka kesakitan dan kematian akibat diare di Negara kita ini.
ISI
I DIARE
Batasan
Diare adalah peningkatan jumlah feses/hari dan atau peningkatan frekuensi BAB, biasa terjadi dalam beberapa hari.
- Diare akut
1.1.1 Definisi
Diare akut adalah perubahan konsistensi tinja yang terjadi tiba-tiba akibat kandungan air di dalam tinja melebihi normal (10ml/kg/hari), menyebabkan peningkatan frekuensi defekasi lebih dari 3 kali sehari.4
1.1.2 Epidemiologi
Setiap tahun diperkirakan lebih dari satu milyar kasus diare di dunia dengan 3,3 juta kasus kematian sebagai akibatnya. Diperkirakan angka kejadian di negara berkembang berkisar 3,5 – 7 episode per anak pertahun dalam 2 tahun pertama kehidupan dan 2 – 5 episode per anak per tahun dalam 5 tahun pertama kehidupan. Hasil survei oleh Depkes. diperoleh angka kesakitan diare tahun 2000 sebesar 301 per 1000 penduduk angka ini meningkat bila dibanding survei pada tahun 1996 sebesar 280 per 1000 penduduk. Diare masih merupakan penyebab utama kematian bayi dan balita. Hasil Surkesnas 2001 didapat proporsi kematian bayi 9,4% dengan peringkat 3 dan proporsi kematian balita 13,2% dengan peringkat 2
. Diare pada anak merupakan penyakit yang mahal yang berhubungan secara langsung atau tidak terdapat pembiayaan dalam masyarakat. Biaya untuk infeksi rotavirus ditaksir lebih dari 6,3 juta poundsterling setiap tahunnya di Inggris dan 352 juta dollar di Amerika Serikat.16
1.1.3 Etiologi
Selama 2 dekade, penelitian menunjukkan karakteristik dari diare akut. Pada awal 1970 agen penyebab dapat diidentifikasi dalam 15-20% episode diare. Sekarang, dengan semakin berkembangnya teknik diagnostik, dapat ditemukan agen penyebab dalam 60-80%.3 Sebagian besar penyebab infeksi diare adalah Rotavirus, disamping virus lainnya seperti Norwalk Like Virus, Enteric Adenovirus, Astovirus, dan Calicivirus. Beberapa patogen bakteri seperti Salmonella, Shigella, Yersinia, Campylobacter, dan beberapa strain khusus E.Coli. Beberapa parasit yang sering menyebabkan diare meliputi Giardia, Crytosporidium, dan Entamoeba Histolytica.1,3
Penyebab diare pada anak dapat dilihat pada tabel 1.4,17,18 Infeksi usus merupakan penyebab tersering awitan diare akut yang sporadis. Tabel 2 memperlihatkan jenis patogen penyebab diare pada diare.4
Table 1. Penyebab diare akut
Infeksi | Infeksi usus (termasuk keracunan makanan) Infeksi ekstra usus (otitis media akut, infeksi saluran kemih, pneumonia) |
Obat-obatan | Antibiotik Obat-obatan lain |
Alergi makanan | Cow's milk protein allergy (CMPA) Alergi protein kedelai Alergi makanan multipel |
Kelainan proses cerna/absorpsi | Defisiensi enzim sukrase/isomaltase Hipolaktase awitan lambat (atau tipe dewasa) |
Defisiensi vitamin | Defisiensi niasin |
Tertelan logam berat | Co, Zn, cat |
Penelitian multisenter selama 1 tahun di beberapa Negara Eropa menunjukkan bahwa 65,6% dari 287 anak terinfeksi oleh patogen, dan infeksi terbanyak adalah karena Rotavirus (35,1%).
Tabel 2. Patogen penyebab diare akut
Patogen | Frekuensi kasus sporadic di Negara berkembang (%) |
Virus Rotavirus Calcivirus Astrovirus Enteric type adenovirus |
25 – 40 1 – 20 4 – 9 ? |
Bakteri Campylobacter jejuni Salmonella Escherichia coli Shigella Yersinia enterocolitica Clostridium difficile Vibrio para haemolyticus Vibrio cholera 01 Vibrio cholera non 01 Aeromonas hydrophilia |
6 – 8 3 – 7 3 – 5 0 – 3 1 – 2 0 – 2 0 – 1 - ? 0 – 2 |
Parasit Cryptosporidium Giardia lamblia |
1 – 3 1 - 3 |
Infeksi di luar usus yang sering disertai diare adalah otitis media akut, infeksi saluran kemih, dan penyakit paru, yang biasanya menyebabkan diare yang ringan dan dapat sembuh sendiri dengan penyembuhan penyakit dasarnya. Penggunaan beberapa macam obat, terutama antibiotik, sering dihubungkan dengan Clostridium difficile. Alergi terhadap protein susu sapi (CMPA) merupakan salah satu diagnosis banding yang perlu dipertimbangkan selain sindrom malabsorpsi bila diare tidak sembuh dalam 10-14 hari.4
1.1.4 Patofisiologi
Ada beberapa mekanisme patofisiologis yang terjadi, sesuai dengan penyebab diare.
Virus dapat secara langsung merusak vili usus halus sehingga mengurangi luas permukaan usus halus dan mempengaruhi mekanisme enzimatik.4
Bakteri mengakibatkan diare melalui beberapa mekanisme yang berbeda. Bakteri non invasive(vibrio cholera, E.coli patogen) masuk dan dapat melekat pada usus, berkembang baik disitu, dan kemudian akan mengeluarkan enzim mucinase (mencairkan lapisan lendir), kemudian bakteri akan masuk ke membran, dan mengeluarkan sub unit A dan B, lalu mengeluarkan cAMP yang akan merangsang sekresi cairan usus dan menghambat absorpsi tanpa menimbulkan kerusakan sel epitel. Tekanan usus akan meningkat, dinding usus teregang, kemudian terjadilah diare.4
Bakteri invasive (salmonella spp, shigella sp, E.coli invasive, campylobacter) mengakibatkan ulserasi mukosa dan pembentukan abses yang diikuti oleh respon inflamasi. Toksin bakteri dapat mempengaruhi proses selular baik di dalam usus maupun di dalam usus. Enterotoksin Escherichia coli yang tahan panas akan mengaktifkan adenilat siklase, sedangkan toksin yang tidak tahan panas mengaktifkan guanilat siklase. E.coli enterohemoragik dan Shigella menghasilkan verotoksin yang menyebabkan kelainan sistemik seperti kejang dan sindrom hemolitik uremik.4
1.1.5 Manifestasi Klinis
Anamnesis
Anamnesis anak dengan gejala diare akut perlu dimulai dengan mengambil informasi yang mungkin mengarahkan kita pada penyakit lain yang presentasi klinisnya mirip dengan diare akut.4 Gejala respiratori seperti batuk, sesak nafas atau takipneu mengarahkan pada adanya penyakit dasar pneumonia. Adanya sakit telinga mungkin merupakan gejala otitis media akut. Frekuensi berkemih, urgensi, dan nyeri saat berkemih mengarahkan kita pada pielonefritis.4 Anamnesis yang baik akan memberi petunjuk kemungkinan penyebab diare tanpa harus melakukan pemeriksaan penunjang.17
Tujuan kedua anamnesis adalah untuk menilai beratnya gejala dan resiko komplikasi seperti dehidrasi. Pertanyaan spesifik mengenai frekuensi, volume dan lamanya muntah serta diare, diperlukan untuk menentukan derajat kehilangan cairan dan gangguan elektrolit yang terjadi.4 Ringkasan cara penilaian dehidrasi dapat dilihat pada tabel 3.4
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik dimaksudkan untuk 2 tujuan utama, mencari tanda- tanda penyakit penyerta dan memperkirakan derajat dehidrasi.4 Penilaian yang tidak akurat terhadap defisit cairan dan kehilangan cairan yang terus terjadi merupakan faktor penting penyebab kesakitan dan kematian pada muntah dan diare akut.4 Gejala dan tanda dehidrasi perlu ditemukan dan tentukan derajat dehidrasi (lihat tabel 3).
1.1.6 Kriteria Diagnosis
Diare akut adalah diare yang berlangsung kurang dari 7 hari.4 Pada diare terjadi perubahan konsistensi tinja yang terjadi tiba-tiba akibat kandungan air di dalam tinja melebihi normal (10ml/kg/hari), dan menyebabkan frekuensi defekasi lebih dari 3 kali sehari.4,17 Derajat dehidrasi dibedakan menjadi tanpa dehidrasi, dhidrasi ringan-sedang, dan dehidrasi berat.
Tabel 3. Penilaian derajat dehidrasi diare akut
Derajat dehidrasi | Keadaan umum | Rasa haus | Kelopak/air mata | Mulut | Kulit | Urin |
Tanpa dehidrasi, (<5%BB) | Baik, kompos mentis | Minum normal | Normal | Basah | Normal | Normal |
Ringan-sedang, (5-10%BB) | Rewel, gelisah | Minum seperti kehausan | Cekung, produksi kurang | Kering | Pucat, capillary refill <2 detik | Berkurang |
Berat, (>10%BB) | Letargi, lemah, kesadaran menurun, nadi dan nafas cepat | Malas minum/tidak dapat minum | Sangat cekung, tidak ada | Sangat kering | Pucat, capillary refill >2 detik | Tidak ada |
1.1.7 Pemeriksaan Penunjang
Pada sebagian besar kasus tanpa dehidrasi atau dengan dehidrasi ringan tidak diperlukan pemeriksaan penunjang.4 Pada dehidrasi berat perlu dilakukan pemeriksaan elektrolit serum, nitrogen urea, kadar gula darah dan analisis gas darah.4
Pemeriksaan virologik dan mikrobiologik perlu dilakukan hanya bila hasilnya dapat digunakan untuk mengganti tata laksana. Adanya darah secara makroskopik dan mikroskopik mengarah pada Shigella, Campylobacter, atau Enterohemorrhagic Escherichia coli sp sebagai penyebab.4
Pemeriksaan untuk mendeteksi virus seperti tes antigen rotavirus dapat mengkonfirmasi penyebab, tetapi tidak mengubah tata laksana. Pemeriksaan antigen Giardia dan apusan feses untuk telur dan parasit umumnya tidak diperlukan kecuali diare berlanjut lebih dari 10 hari atau ada riwayat paparan.4
1.1.8 Tata Laksana
Rehidrasi Oral
Pada anak dengan diare akut dehidrasi ringan sedang, perlu segera diberikan cairan rehidrasi oral.4,17 Kandungan natrium dalam cairan rehidrasi oral yang direkomendasikan oleh WHO adalah 90 mmol/L, yaitu sesuai dengan kandungan natrium dalam tinja pasien kolera (90-140 mmol/L). kadar natrium yang direkomendasikan oleh ESPGHAN (European Society of Pediatric Gastroenterology anad Nutrition) adalah 60-75 mmol/L mengingat kadar natrium dalam tinja pasien rotavirus hanya sekitar 35-45 mmol/L.4
Pada diare umumnya saat ini dianjurkan untuk menggunakan cairan sesuai anjuran ESPGHAN.4
Tabel 4. Pedoman Tata Laksana diare akut4
berdasarkan derajat dehidrasi
Derajat dehidrasi % defisit | Rehidrasi | Penggantian cairan |
Tanpa dehidrasi (<5% BB) | Tidak perlu | 10 ml/kg tiap diare 2-5 ml/kg tiap muntah |
Ringan sedang (5-10% BB) | CRO 75 ml/kg/3 jam | 10 ml/kg tiap diare 2-5 ml/kg tiap muntah |
Berat (>10% BB) | Cairan intravena <12 bulan: 30 ml/kg/1 jam atau 70 ml/kg/5 jam | 10 ml/kg tiap diare 2-5 ml/kg tiap muntah |
BB=berat badan, CRO=cairan rehidrasi oral
Tabel 5. Komposisi cairan Parenteral dan Oral16 :
Osmolalitas(mOsm/L) | Glukosa(g/L) | Na+(mEq/L) | CI-(mEq/L) | K+(mEq/L) | Basa(mEq/L) | |
NaCl 0,9 % | 308 | - | 154 | 154 | - | - |
NaCl 0,45 %+D5 | 428 | 50 | 77 | 77 | - | - |
NaCl 0,225%+D5 | 253 | 50 | 38,5 | 38,5 | - | - |
Riger Laktat | 273 | - | 130 | 109 | 4 | Laktat 28 |
Ka-En 3B | 290 | 27 | 50 | 50 | 20 | Laktat 20 |
Ka-En 3B | 264 | 38 | 30 | 28 | 8 | Laktat 10 |
Standard WHO-ORS | 311 | 111 | 90 | 80 | 20 | Citrat 10 |
Reduced osmalarity WHO-ORS | 245 | 70 | 75 | 65 | 20 | Citrat 10 |
EPSGAN recommendation | 213 | 60 | 60 | 70 | 20 | Citrat 3 |
Pemberian Makanan Secepatnya (early refeeding)
Makanan per oral diberikan sesegera mungkin saat kondisi sudah membaik.17 Rekomendasi pemberian makanan secepatnya pada tata laksana diare akut terutama ditekankan pada meneruskan pemberian ASI dan makanan sehari-hari.4 Hal ini dapat mencegah terjadinya gangguan gizi, menstimulasi perbaikan usus, dan mengurangi derajat serta lamanya penyakit.4,16
Anak yang lebih besar yang telah menerima bermacam variasi makanan sebaiknya diberikan makanan yang seimbang, cukup energi dan mudah dicerna. Karbohidrat kompleks seperti nasi, mie, kentang, roti, biskuit dan pisang sebaiknya diberikan sejak awal, kemudian ditambahkan sayuran dan daging matang.4 Makanan yang perlu dihindari adalah yang mengandung gula sederhana seperti minuman ringan (soft drink), jus buah kental, minuman mengandung kafein, dan sereal yang dilapisi gula.4
Pemberian Probiotik
Terdapat banyak laporan tentang penggunaan probiotik dalam tatalaksana diare akut pada anak.4,13,16 Hasil meta analisa Van Niel dkk menyatakan lactobacillus aman dan efektif dalam pengobatan diare akut infeksi pada anak, menurunkan lamanya diare kira-kira 2/3 lamanya diare, dan menurunkan frekuensi diare pada hari ke dua pemberian sebanyak 1 – 2 kali. Kemungkinan mekanisme efek probiotik dalam pengobatan diare adalah perubahan lingkungan mikro lumen usus, produksi bahan anti mikroba terhadap beberapa patogen, kompetisi nutrien, mencegah adhesi patogen pada anterosit, modifikasi toksin atau reseptor toksin, efektrofik pada mukosa usus dan imunno modulasi.16
Mengurangi durasi diare juga dapat dilakukan dengan pemberian probiotik bersamaan dengan makanan.8 Produk susu yang difermentasi merupakan "palatable source of nutriens". Proses fermentasi akan mengurangi konsentrasi laktosa dan peningkatan konsentrasi asam laktat, galaktosa, asam amino bebas, asam lemak, dan beberapa vitamin B. sehingga dapat terjadi ketahanan terhadap serangan infeksi dan perbaikan kembali keseimbangan lingkungan flora normal dalam usus.8
Obat-obatan
Pemberian antiemetik, antimotilitas, dan antidiare sebagai pengobatan diare kurang bermanfaat bahkan dapat menyebabkan komplikasi yang serius.4,16 Obat-obatan tersebut tidak mengurangi volume tinja ataupun memperpendek lama sakit. Efek sedasi atau anoreksia yang ditimbulkan akan mengurangi keberhasilan terapi rehidrasi oral.4
Penggunaan antibiotik tidak efektif pada infeksi virus dan hanya terindikasi pada keadaan tertentu antara lain : (1)patogen telah teridentifikasi, (2)bayi atau anak dengan defek imun, (3)terapi terhadap kolera, (4)bayi kurang dari 3 bulan dengan biakan tinja positif.4
Mikronutrien
Dasar pemikiran pengunaan mikronutrien dalam pengobatan diare akut didasarkan kepada efeknya terhadap fungsi imun atau terhadap struktur dan fungsi saluran cerna dan terhadap proses perbaikan epitel seluran cerna selama diare. Seng telah dikenali berperan di dalam metallo – enzymes, polyribosomes , selaput sel, dan fungsi sel, juga berperan penting di dalam pertumbuhan sel dan fungsi kekebalan . Sazawal S dkk melaporkan pada bayi dan anak lebih kecil dengan diare akut, suplementasi seng secara klinis penting dalam menurunkan lama dan beratnya diare.4,16,19,20
1.1.9 Pencegahan dan Edukasi
Ada beberapa kiat pencegahan terjadinya diare antara lain : (1)pemberian ASI eksklusif 4-6 bulan, (2)sterilisasi botol setiap sebelum penberian susu formula, (3)persiapan dan penyimpanan makanan bayi/anak secara bersih, (4)gunakan air bersih dan matang untuk minum, (5)kebiasaan mencuci tangan, (6)membuang tinja di jamban, (7)pemberian makanan seimbang untuk menjaga status gizi.
- Diare Persisten
1.2.1 Definisi
Diare persisten adalah diare akut karena infeksi usus yang karena sesuatu sebab melanjut 14 hari atau lebih.4,16 Diare persisten didefinisikan sebagai berlanjutnya episode diare selama 14 hari atau lebih yang dimulai dari suatu diare cair akut atau berdarah (disentri).16 Kejadian ini sering dihubungkan dengan kehilangan berat badan dan infeksi non intestinal.
1.2.2 Epidemiologi
Dari 8 studi komunitas di Asia dan Amerika Latin didapati persentase diare persisten antara 3 sampai 23% dari seluruh kasus diare. Pada 7 studi lainnya insiden diare persisten sangat bervariasi.16 Di India insiden diare persisten per tahun sekitar 7 kasus tiap 100 anak yang berumur 4 tahun atau kurang dan 150 kasus di Brazil. Pada seluruh studi insiden tertinggi pada anak dibawah 2 tahun. WHO dan UNICEF memperkirakan pada tahun 1991 diare persisten terjadi 10% dari episode diare dengan kematian sebanyak 35% pada anak di bawah 5 tahun . Studi di Banglades, India, Peru dan Brazil mendapatkan kematian sekitar 45% atau 30-50% kematian dari diare persisten.16
Meskipun insiden diare persisten paling banyak terjadi pada anak di bawah 2 tahun, namun kematian sering terjadi pada anak 1 – 4 tahun dimana malnutrisi sering timbul. Hal ini dikarenakan kamatian oleh karena diare persisten sering berhubungan dengan malnutrisi.4,16,21
Tabel 6. Lamanya episode diare.
Negara | Persentase lamanya episode diare (%) | ||
1-7 hari | 8-14 hari | >14 hari | |
Indonesia | 83 | 14 | 4 |
Guatemala | 53 | 27 | 19 |
Peru | 79 | 14 | 7 |
Peru | 88 | 9 | 3 |
Bangladesh | 66 | 21 | 14 |
Bangladesh | 71 | 22 | 7 |
Bangladesh | 50 | 27 | 23 |
India | 35 | 55 | 10 |
Tabel 7. Insiden diare persisten ( 100 anak/tahun) berdasarkan kelompok umur.
Negara | Kelompok Umur | |||||
<1 thn. | 1 tahun | 2 tahun | 3 tahun | 4 tahun | 0-4 thn. | |
India | 31 | 9 | 6 | 2 | 1 | 7 |
Nepal | 15 | 17 | 12 | 10 | 10 | 14 |
Peru | 31 | 22 | 16 | - | - | 26 |
Bangladesh | 75 | 25 | 29 | 28 | 6 | 34 |
Bangladesh | 58 | 57 | 55 | 39 | 33 | 48 |
Bangladesh | 64 | 74 | 67 | 43 | 43 | 59 |
Brazil | 171 | 216 | 160 | 90 | 60 | 150 |
1.2.3 Etiologi
FAKTOR INTRALUMINAL | FAKTOR MUKOSA |
Kelainan pankreas | Perubahan integritas |
Fibrosis kistik Sindrom Shwachman-diamond Sindrom Johannson-blizzard Defisiensi enzim pancreas terisolasi Pancreatitis kronis Sindrom pearson | Infeksi bakteri, viral, fungal Infeksi parasit Intoleransi protein sapi dan kedelai Inflammatory bowel disease (colitis ulseratif, crohn) |
Kelainan asam empedu | Perubahan fungsi imunologis |
Kolestasis kronik Reseksi ileum terminal Bakteri tumbuh lampau Penggunaan sekuestran asam empedu secara kronik Malabsorbsi asam empedu primer | Enteropati autoimun Gastroenteropati osinofilik AIDS Imunodefisiensi Defisiensi immunoglobulin A dan G |
Kelainan usus halus | Perubahan fungsi |
Osmolaritas intraluminar Malabsorbsi karbohidrat Defisiensi sukrase, lactase congenital dan didapat Asupan berlebih minuman berkarbonasi Asupan berlebih sorbital, Mg(OH)2 dan laktulose | Defek Cl⁻/HCO3, Na⁺/H⁺, asam empedu, enteropati akrodermatitis, defisiensi folat selektif, abetaproteinemia |
Perubahan fungsi pencernaan | |
Defisiensi enterokinase Defisiensi glukoamilase | |
Perubahan area permukaan | |
Penyakit seliak Sindrom postgastroenteritis Penyakit inklusi mikrovilus Short bowel syndrome | |
Perubahan fungsi sekretorik | |
Bakteri yang memproduksi enterotoksin Tumor yang mensekresi peptide vasoaktif | |
Perubahan struktur anatomi | |
Penyakit Hirschprung Obstruksi parsial usus kecil Malrotasi |
Sejumlah studi telah mencoba menemukan patogen utama yang berhubungan dengan diare persisten. Informasi ini berguna untuk meramalkan perjalanan penyakit dan membantu memutuskan apakah perlu pemakaian antibiotik.16 Empat studi di India, Bangladesh dan Peru menemukan bahwa Rotavirus, Aeromonas, Campylobacter, Shigella dan Giardia Lamblia sama seringnya pada diare akut dan diare persisten. Cryptosporidium lebih sering pada diare persisten dibanding diare akut di Bangladesh. Bukti dari beberapa studi menyatakan bahwa Entero-adherent E Coli terutama dihubungkan dengan diare persisten. Studi Ashraf, dkk di Bangladesh mendapatkan bakteri patogen dari isolasi feses berupa Diaregenic E coli sebesar 66% (ETEC,EAEC dan EPEC) diikuti C jejuni 32%.16
Terdapat banyak bakteri, virus dan parasit sebagai penyebab diare karena infeksi, sejumlah patogen baru memperlihatkan agen penyebab diare yang sering ditemukan.16
Tabel 8. Penyebab infeksi diare
Enteropathogen | Diare Akut | Disentry | Diare persisten |
Virus |
|
|
|
Rotavirus | + | + | + |
Enteric adenovirus (types 40.41) | + | + | + |
Calicivirus | + | + | + |
Astrovirus | + | + | + |
Cytomegalovirus | + | + | + |
Bakteri |
|
|
|
Vibrio cholera and other vibrios | + | - | + |
Enterotoxigenik E coli (ETEC) | + | - | + |
Enteropathogenic E coli (EPEC) | + | - | + |
Enteroaggregative E coli (EAggEC) | + | - | + |
Enteroinavsive E coli (EIEC) | + | - | + |
Enterohaemorraghic E coli (EHEC) | + | + | + |
Shigella spp | + | + | + |
Salmonella spp | + | + | + |
Campylobacter spp | + | + | + |
Yersinia spp | + | + | + |
Clostridium defficile | + | + | + |
Mycobacterium tuberculosis | - | + | + |
Protozoa |
|
|
|
Giardia intestinalis | + | - | + |
Cryptosporidium parvum | + | - | + |
Microsporidia | + | - | + |
Isospora belli | + | - | + |
Cyclospora cayetanensis | + | - | + |
Entamoeba histolytica | + | + | + |
Balantidium coli | + | + | + |
Helminths |
|
|
|
Strongyloides stercoralis | - | - | + |
Schistosoma spp | - | + | + |
1.2.4 Patofisiologi
Secara patogenesis, diare persisten dapat terjadi melalui diare sekretorik dan diare osmotik. Pada diare sekretorik, toksin merangsang c-AMP atau c-GMP untuk mensekresikan secara aktif air dan elektrolit ke dalam lumen usus sehingga terjadi diare. Sedangkan pada diare osmotik, kenaikan tekanan osmotik dalam lumen usus akibat fermentasi makanan yang tidak diserap akan menarik sel ke dalam lumen usus sehingga terjadi diare.4
Titik sentral patogenesis diare persisten adalah kerusakan mukosa usus yang pada tahap awal disebabkan oleh etiologi diare akut. Berbagai faktor resiko melalui interaksi timbal balik menyebabkan rehabilitasi kerusakan mukosa terhambat dan memperberat kerusakan.16
Faktor resiko terjadinya diare persisten adalah umur kurang dari 6 bulan, dilahirkan prematur, ditemukan malnutrisi, tidak mendapat ASI, adanya penyakit penyerta, penggunaan antibiotik, dan anemia.4,16,21 Faktor penyebab tersering berturut-turut adalah intoleransi laktosa sekunder, enteropati karena alergi terhadap protein susu sapi (CMPSE-cow's milk protein sensitive enteropathy), sindrom malabsorpsi, bakteri tumbuh lampau (bacterial overgrowth), diare karena antibiotik (antibiotic-induced diarrhea), dan infeksi persisten.4,16
1.2.5 Manifestasi klinis
Diare berlangsung 14 hari atau lebih. Bila terjadi diare hebat dapat terlihat gejala-gejala dehidrasi ringan sampai berat, asidosis dan gangguan keseimbangan elektrolit seperti lemah, kembung dan muntah. Status gizi anak biasanya kurang atau buruk.4
1.2.6 Kriteria Diagnosis
Diare persisten bukanlah penyakit, tetapi merupakan entitas klinik yang disebabkan berbagai macam etiologi. Oleh karena itu, upaya penting perlu dilakukan untuk mencari etiologinya, karena pengobatan didasarkan pada faktor penyebabnya. Berikut adalah hal-hal yang penting dilakukan4 :
- Tentukan apakah diarenya tergolong osmotik atau sekretorik. Cara membedakan keduanya adalah dengan cara memuasakan pasien selama 24 jam (tentu saja pasien mendapat terapi cairan parenteral): bila diare berkurang/berhenti maka diarenya jenis osmotic, bila diare berlangsung terus menunjukkan jenis diare adalah sekretorik.
- Bila diare osmotik, cari kemungkinan intoleransi laktosa, CMPSE, atau sindrom malabsorpsi
- Bila diare sekretorik, cari kemungkinan bakteri tumbuh lampau, diare karena antibiotik atau infeksi persisten.
1.2.7 Pemeriksaan Penunjang
Beberapa pemeriksaan penunjang perlu dilakukan untuk mencari etiologi diare persisten, yaitu4:
- pH tinja dan bahan perduksi (clinitest) untuk mendeteksi intoleransi laktosa
- eliminasi dan provokasi protein susu sapi untuk mendeteksi CMPSE
- uji malabsorpsi (steatokrit dan tripsin activity test) untuk mendeteksi sindrom malabsorpsi
- uji hydrogen napas untuk mendeteksi bakteri tumbuh lampau. Carannya: pasien dipuasakan 4 jam, kemudian diukur kadar gas H2 pada keadaan basal. Pasien diberi larutan glukosa/laktosa dan kemudian kadar gas H2 diukur setiap 30 menit. Bila terjadi kenaikan dini (30 menit dan >20 ppm) dinyatakan positif bakteri tumbuh lampau.
- Uji toksin clostridium difficile dalam tinja untuk mendeteksi diare karena antibiotic
- Kultur tinja untuk mendeteksi infeksi persisten baik kuman aerob maupun anaerob.
1.2.8 Tata Laksana
Pemberian makan merupakan bagian esensial dalam tatalaksana diare persisten untuk menghindari dampak diare persisten terhadap status gizi dan mempertahankan hidrasi. Hidrasi dipertahankan dengan pemberian tambahan cairan dan cairan rehidrasi oral jika diperlukan. Kadang diperlukan pemberian cairan intravena bila gagal pemberian oral.4,16
Diare persisten akan mempengaruhi status gizi karena penurunan masukan makanan, gangguan penyerapan makanan, kehilangan zat gizi dari dalam tubuh melalui kerusakan saluran cerna dan meningkatnya kebutuhan energi oleh karena demam dan untuk perbaikan saluran cerna. Pemberian Air Susu Ibu (ASI) harus dilanjutkan selama diare berlangsung.4,16
Dukungan nutrisi amat penting untuk mencegah dan mengobati malnutrisi yang terjadi. Berikanlah diet sesuai dengan usia dan status gizi penderita. Pada awal terapi, laktosa mungkin perlu dihindari karena mungkin telah terjadi kerusakan mukosa usus yang bermakna. Suplementasi mikronutrien seperti Zn dan Fe sangat diperlukan untuk mempercepat regenerasi mukosa usus halus.4
Bila alergi susu sapi, ASI diteruskan dan ibu tidak mengkonsumsi susu sapid an makanan yang terbuat dari susu sapi (keju, es krim, dll). Bila tidak minum ASI, pasien diberi formula hidrolisat protein.4,16
Pada sindrom malabsorpsi, pasien diberi makanan atau formula elemental. Bila diet per oral belum dapat diberikan, pasien sebaiknya diberi nutrisi parenteral selama 2 minggu untuk mempercepat regenerasi mukosa usus halus.4 Pada bakteri tumbuh lampau, berikan metronidazol 30mg/kg/hari selama 10-14 hari. Pada diare karena antibiotic, hentikan antibiotik bila mungkin. Berikan metronidazol 30-50 mg/kg/hari selama 7-10 hari dan probiotik 2x106-9cfu selam 7-10 hari.4 Pada infeksi persisten, berikan antibiotik sesuai hasil kultur dan resistensi selama 7-10 har.i4
1.2.9 Pencegahan dan Edukasi4
1. Hindari penggunaan antibiotik dan antidiare pada anak dengan diare akut
2. Berikanlah terapi nutrisi yang adekuat pada setiap anak dengan diare akut untuk mencegah terjadinya gangguan gizi untuk memutus lingkaran setan diare-malnutrisi-diare
3. Galakkan penggunaan ASI.
II PROBIOTIK
2.1 Definisi
Probiotik adalah mikroorganisme hidup, yang jika diberikan dalam jumlah yang adekuat akan memberi keuntungan menyehatkan pada individu.11
Probiotik adalah bakteri non patogen yang menguntungkan yang hidup berkoloni dalam usus halus dan dapat menyebabkan perubahan mikroflora usus dan mempengaruhi aktivitas metabolik dengan hasil yang menguntungkan bagi host.13
2.2 Manfaat
Bakteri probiotik memberikan efek yang menguntungkan bagi keseimbangan mikroba usus host dan dapat memperbaiki atau meningkatkan sistem imun.13
L.Reuteri, satu dari spesies lactobacillus, sudah digunakan secara luas selama beberapa tahun sebagai suplemen makanan. Beberapa studi menunjukkan efek positif pada gangguan pencernaan sperti diare dan konstipasi.13
Lactobacillus dan bifidobacterium secara umum merupakan bakteri non patogen, karena mereka secara alami ada di dalam usus.13 Efikasi dari beberapa probiotik tergantung dari genus, spesies dan strain. Tidak semua bakteri tahan asam mempunyai efek probiotik.12 Probiotik multipel strain lebih efektif daripada single strain.12
Lactobacillus GG yang diisolasi dari manusia, stabil terhadap asam lambung dan empedu, dan mempunyai kemampuan berkolonisasi di usus manusia. Bahan antimicrobial yang diproduksi oleh Lactobacillus GG dapat mengontrol proliferasi dari organisme gram negatif dan gram positif. Bahan antimikrobial ini tidak menghambat aktivitas lactobacillus lainnya. Strain ini sudah digunakan dengan sukses dalam terapi terhadap Colitis yang relaps akibat clostridium difficile.8
Pemberian makan disertai susu fermentasi yang mengandung lactobacillus casei atau lactobacillus acidophilus dapat memproduksi imunostimulasi pada host dengan mengaktivasi makrofag dan limfosit. Hal ini berhubungan dengan bahan yang diproduksi oleh organisme-organisme ini selama proses fermentasi yaitu beberapa bahan metabolit, peptide dan enzim.8
Pada anak dengan malnutrisi, diare akut menyebabkan perubahan keseimbangan mikroflora secara drastis, pada kasus ini pemberian produk yang difermentasi dapat membantu rekolonisasi.8
Tambahan probiotik pada makanan sehari-hari merupakan cara yang efektif untuk mengurangi demam, flu dan angka kejadian batuk, serta menurunkan durasi dari pemggunaan antibiotik, pada usia 3-5 tahun.11
Kondisi-kondisi lain yang dapat diatasi dengan probiotik antara lain diare kronik, inflammatory bowel disease, irritable bowel syndrome dan alergi makanan, dan dapat mencegah kondisi yang lebih buruk, dari travelers diare dan NEC menjadi infeksi urogenital, penyakit atopik dan karies gigi.12 Vanderhoff dan peneliti lain menilai adanya kemungkinan penggunaan pada bayi dan anak sehat.12
Susu formula bayi yang mengandung Bifidobacterium lactis atau Lactobacillus reuteri, dapat menurunkan resiko diare, gejala gangguan saluran pernapasan, demam dan parameter kelainan lainnya. Anak-anak yang mempunyai resiko terhadap penyakit ini seperti anak-anak di TPA, dapat diberikan formula probiotik profilaksis secara teratur. Beberapa penulis melaporkan adanya penurunan episode penyakit dan jumlah hari kesakitan akibat diare dan demam.12
Pada suatu studi jangka panjang menunjukkan bahwa probiotik yang digunakan selama beberapa bulan pada bayi adalah aman dan ketika digunakan selamam beberapa tahun pada populasi umum, dilakukan skrining terhadapa bakteremia karena bakteri probiotik.12 Weizman dkk membandingkan 2 probiotik dan placebo yang berbeda dapat menunjukkan tingkat keuntungan yang berbeda pula pada berbagai kondisi. Hal ini mungkin terjadi, karena kondisi lingkungan yang kompleks pada usus manusia, probiotik dengan multipel strain dapat lebih efektif daripada single strain.
2.3 Mekanisme
Pada saluran cerna manusia, probiotik menginduksi kolonisasi dan dapat tumbuh secara in situ di lambung, duodenum dan ileum. Pada epitel ileum manusia, mikroorganisme ini dapat menginduksi aktivitas immunomodulatory, termasuk pengambilan CD4+ T Helper cells. Probiotik menginduksi sistem imun, produksi musin, down regulation dari respon inflamasi, sekresi bahan antimikroba, pengaturan permeabilitas usus, mencegah perlekatan bakteri patogen pada mukosa, stimulasi produksi immunoglobulin dan mekanisme probiotik lainnya.12
Enzim akan memproduksi bakteri asam laktat yang dapat mempengaruhi proses metabolisme host. Yogurt mempunyai aktivitas laktase yang tinggi, yang dapat membantu keadaan malabsorbsi laktosa. Selama proses fermentasi susu, secara umum, mikroorganisme akan menggunakan laktosa sebagai substrat. Hasilnya, konsentrasi laktosa dalam yogurt akan lebih rendah daripada susu yang tidak difermentasi. Malabsorbsi laktosa dapat mempengaruhi mekanisme diare dengan memproduksi tekanan osmotic intraluminal sehingga mendorong air dan elektrolit ke dalam lumen usus, akibatnya karbohidrat yang tidak diabsorbsi dapat menyebabkan kolonisasi bakteri di usus kecil.
2.4 Dosis Penggunaan
Tergantung perkiraan populasi normal bakteri tersebut. Menurut Mitsuoka (ahli probiotik dari Jepang), lactobacilli populasinya adalah 10 pangkat 6, sedangkan bifidobacteria adalah 10 pangkat 8. Namun memang para produsen melebihkan jumlahnya 2 - 3 log (pangkat 10) untuk mengantisipasi kerusakan akibat melalui saluran cerna bagian atas (lambung)24.
Dosis probiotik yang dianjurkan adalah 10 pangkat 7 hingga 10 pangkat 9. Rekomendasi dari Mitsuoka untuk bakteri Lactobacillus memang sekitar 10 pangkat 6. Jika kita memberikan kurang dari itu, maka proses keseimbangan tidak tercapai yang berarti tidak bisa disebut probiotik. Oleh karena itu, preparat probiotik Lactobacillus umumnya diberikan pada dosis 10 pangkat 7 hingga pangkat 9.Untuk Dialac® yang mengandung heat-killed bacteria, memang agak berbeda. Perbedaannya, jumlah yang dihitung tersebut (10 pangkat 10) adalah pada saat fermentasi dan preparasi sel Tyndallized. Selain itu karena bakteri sudah dimatikan, maka tidak akan berproliferasi hingga mencapai target. Berbeda dengan bakteri yang hidup yang masih bisa bertambah jumlahnya pada saat mencapai sel target. Tentu hal ini juga sudah memperhitungkan adanya sebagian bakteri yang mati pada perjalanan sebelum mencapai target24.
Sebuah penelitian di Bangladesh merekomendasikan penggunaan Lactobacillus paracasei strain ST 11, dalam bentuk Lypholized ST 11 (5 x 109 colony forming units) 2 kali sehari selama 5 hari, disertai dengan pemberian ORS (oral rehydration solution)22.
Hung-Chih dan kawan-kawan, menggunakan Bifidobacterium bifidum dan Lactobacillus acidophilus yang ditambahkan ke dalam ASI atau susu formula untuk mencegah terjadinya NEC(Necrotizing Enterocolitis) pada bayi dengan berat badan sangat rendah <1500 gram, yaitu dalam bentuk Infloran (L.acidophilus 109 colony forming units dan B.bifidum 109 colony forming units) 125mg/kgBB per dosis, 2 kali sehari selama 6 minggu23.
DAFTAR PUSTAKA
- Behrman, Kliegman, Jenson. Nelson Textbook of Pediatrics. 16th ed. Philadelphia: W.B Saunders Company, 2000. p.765-768.
- Wiku Adisasmito. Faktor Resiko Diare Pada Bayi dan Balita di Indonesia: Systematic review Penelitian Akademik Bidang Kesehatan Masyarakat. Makara, Kesehatan Juni 2007; 1-10
- Christopher D, Mathurasn S, Consultants RC, W.B Greenough III, Ronald K, William JK, et al. The Management of Acute Diarrhea in Children: Oral Rehydration, Maintenance, and Nutritional Therapy. MMWR 1992; 41
- Anonymous. Panduan Pelayanan Medis Departemen Ilmu Kesehatan Anak. RSUP Nasional DR.Cipto Mangunkusumo. 2007
- Ikatan Dokter Anak Indonesia: Diare Pada Anak, Bagaimana Menanganinya?. 2009
- dep.kes.ri.depkes 2002
- dep.kes.ri.depkes 2005
- Erika I, Tarja R, Marketta J, Pekka S, Timo K. A Human Lactobacillus Strain (Lactobacillus Casei sp Strain GG) Promotes Recovery From Acute Diarrhea in Children. Pediatrics 1991; 88; 90-97
- Jeannie SH, Athos B, John WL, Angela D, Emily JD. Efficacy of Probiotic Use in Acute Diarrhea in Children: A Meta Analysis in Digestive Diseases and Sciences. vol.47, No.11. November 2002. Pp 2625-2634
- Anonymous. UGM Kembangkan Probiotik Untuk Anti Diare. Republika Newsroom. 2009
- Gregory JL, Shuguang, Mohamed E.M, Cheryl R, Arthur C.O. Probiotic Effects on Cold and Influenza Like Symptom Incidence and Duration in Children. Accepted March 12, 2009
- Cornelius W, Van Niel MD. Probiotics: Not Just For Treatment Anymore. Accepted Oct 18, 2004
- Zvi Weizman, Ghaleb A, Akmed A. Effect of A Probiotic, Infant Formula on Infection in Child Care Centers: Comparison of Two Probiotic Agents. Pediatrics 2005; 115; 5-9
- Rahmi Hastari. Probiotik dan Prebiotik Mencegah Diare Pada Anak. Halo-halo: 2007
- Anonymous. Artikel: Probiotik Membebaskan Diare Pada Bayi dan Anak-anak
- Deddy Satriya. Artikel: Diare Akut Pada Anak. Juni 2008
- Anonymous. Acute Diarrhea in Children. NASPGHAN
- Ignatius Sudigbia. Tinjauan Terapi Nutrisi Pada Diare Anak. Dibacakan dalam pidato pengukuhan Guru Besar. Semarang: 1994
- IGN Sanjaya, Sudaryat S, I Ketut NA. Effect of Probiotic Supplementation on Acute Diarrhea in Infants: A Randomized double blind clinical trial. Paediatrica Indonesiana ed July 2007. Vol.47. p.172-177
- Oliver Fontaine. Departement of Child and Adolescent Health and Development, World Health Organization. Evidence for The Safety and Efficacy of Zinc Supplementation in The Management of Diarrhea. Presenting in Konika XIV 14, Surabaya. Sari Pediatri edisi Juni 2008. Vol.10. hal.14-20
- IGN Sanjaya, Agus F, Badriul H, Aswitha DB, Muzal K, Fatima SA. Faktor Resiko Diare Persisten pada Pasien yang Dirawat di Departemen Ilmu Kesehatan Anak RS Dr.Cipto Mangunkusumo Jakarta. Sari Pediatri edisi Juni 2008. Vol.10. hal.42-46